Setiap rumah punya peraturan masing-masing. Menurut si Cici yang sekarang cerewetnya minta ampun, di rumah kita aturannya terlalu banyak!!! Ha ha ha Peraturan itu dibuat bukan untuk dilanggar, tetapi demi kenyamanan hidup bersama. Peraturan di rumah kita berlaku untuk semua, tak terkecuali, bukan hanya untuk anak-anak.
Regler (*peraturan) rumah kita diantaranya :
- Man måste lyssna (*harus belajar mendengarkan). Harus membiarkan orang yang sedang bicara menyelesaikan apa yang hendak disampaikan biar tidak ada salah paham. Anak-anak umumnya susah untuk mendengarkan, apalagi yang ada sangkut pautnya dengan kata “jangan”, “tidak boleh”. Telinga mereka sepertinya sudah bisa memilih langsung, mana yang penting dan mana yang tidak penting. Emaknya biasanya udah bilang ke mereka, “kalau kalian tidak mau mendengarkan mama, mama juga ngak mau mendengarkan kalian nantinya.” Jadinya mereka bisa merasakan gimana sakit hatinya mama atau papa kalo mereka ngak dengar perkataan orang tua. Mendengarkan bukan berarti harus dikerjakan. Kadang kita bisa juga diskusi kalau mereka merasa itu ngak adil. Tapi tetap harus belajar mendengar…
- Man får inte ljuga (*ngak boleh bohong). Apapun yang terjadi, harus berusaha untuk jujur. Walaupun jujur itu kadang terasa pahit. Jadi ingat dulu, saking jujurnya si Cici, pas di ajak ke acara kawinan teman orang Thailand, dia sampe teriak, “kue pengantinnya ngak enak!!!”. Hasilnya emaknya yang malu, ngak tahu mau ditaruh dimana muka emaknya. Pas pulang rumah kita bicarakan sama anak-anak. Jujur boleh, tapi soal kue, belum tentu kue itu ngak enak menurut orang lain. Semua orang punya pendapat berbeda-beda. Bangga karena anak-anak bisa jujur tapi jujurnya harus diarahkan ke arah yang benar. Diusahakan dipertimbangkan lagi apa yang kita ucapkan supaya tidak menyakiti hati orang lain. Hasilnya, si Meme kalo diajak belanja dan ditanyakan pendapatnya selalu dia jawabnya, “Mama, maaf, jujur menurut Meme bajunya ngak bagus.” Ha ha ha… lebih manis didengar kan???
- Man ska vara snäll och respektera varandra (*harus ramah dan menghormati sesama). Pertanyaan yang biasa aku tanyain ke anak-anak, “Apa kalian mau orang lain itu kasar terhadap kalian?”. Sebagaimana kita mau dilayani dengan ramah dan dihormati, begitu juga orang lain mau hal yang sama. Tidak boleh saling pukul, harus saling menyayangi. Anak-anak untungnya mau mengerti (*kadang berantem juga).
- Man måste ha ansvar om sitt beteende och sina saker (*harus bertanggung jawab dengan perbuatan dan barang-barang milik pribadi). Harus punya tanggung jawab kalau kamar ancur kayak kapal pecah. Seperti kita orang tua yang bertanggung jawab untuk mengurus dan menghidupi anak, begitu juga anak harus punya tanggung jawab terhadap apa yang mereka perbuat dan apa yang mereka punya. Kata lainnya menurut si Cici : “BERSIH-BERSIH!!!” karena selalu problemnya ya anak-anak malas membereskan mainan mereka.
- Man måste göra som man har lovat (*harus menepati janji). Namanya janji ya janji. Ngak boleh ingkar. Dulu biar badan rasanya udah remuk pingin bobo seharian tapi karena sudah janji bawa ke Liseberg (Dufan-nya orang sini) terpaksa bawa mereka ke sana. Kita sebagai orang tua selalu dijadikan contoh sama anak. Kalau kita sering ingkar akhirnya anak-anak malah ngak akan mau dengar dan percaya kita lagi. A promise is a promise! If you can’t keep your promise, don’t promise then!
- Glömmer inte att säga tack, förlåt/ursäkta, snälla (*jangan lupa bilang terima kasih, maaf/permisi, tolong). Emaknya paling suka mengingatkan krucil berdua, jangan lupa 3 magic words. They are magic because they can make others happy. Aku biasanya selalu bilang 3 kata ini ke mereka. Puji TUHAN, mereka juga selalu bilang 3 kata ini di sekolah. Sampe gurunya si Cici pernah bilang kalau Cici itu anak paling sopan yang pernah dia temui (*emaknya sampe nangis haru karena gurunya ngak tahu perjuangan emaknya di rumah biar bisa seperti itu). Kita di rumah ngak pernah memakai kata yang “not so nice” (*kata makian). Anak-anak pun begitu, sampai detik ini mereka ngak pernah memaki, baik di rumah atau di sekolah. Walaupun mereka sudah banyak mendengar kata makian di luar dari orang lain, tapi ngak pernah mereka ikut-ikutan. Karena kita selalu mengajarkan apa yang kamu ucapkan sebaiknya kamu pikirkan dulu apa itu enak di dengar untuk dirimu sendiri atau tidak.
- En snäll person får gotti gott, inte snäll får ingenting (*Orang yang ramah dan manis dapat reward, yang ngak tidak dapat apa-apa). Mengajarkan anak hukum sebab dan akibat. Ada sebab ada akibat, ada usaha ada reward. Yang kusam, cemberut dan nakal ngak dapat apa-apa.
- Man ska vara tacksam för allt man har (*harus selalu bersyukur dengan apa yang kita punya). Untungnya kita sering nonton TV bersama. Tiap kali ada iklan unicef, anak-anak di India yang sudah yatim piatu, ngak punya mainan, harus masak, bersih-bersih rumah muncul di TV anak-anak selalu suka bertanya, kenapa bisa begitu. Kita selalu menjelaskan ke mereka bahwa kita harus selalu bersyukur dengan apa yang kita punya, kita punya rumah, masih ada keluarga, masih bisa makan dan sekolah karena di luar sana masih banyak yang ingin punya hidup seperti kita. Sampe si Meme udah mulai jualan di loppis (*second hand store) mainan, baju bekas yang dia ngak pake lagi supaya bisa ikut nyumbang ke unicef.
dan masih banyak lagi…. (*menurut krucil berdua). ha ha ha

Di rumah prinsipnya memakai “en glad och en sur gubbe” (*wajah senang dan sedih). Tiap hari dilihat kelakuan mereka, anak manis atau tidak. Jika jumlah “sur gubbe” (*wajah sedih) lebih banyak daripada “glad gubbe” (*wajah senang) mereka ngak bakal dapat uang saku mingguan, kue dan reward yang lainnya.
Penggunaan uang saku sebenarnya sih untuk mengajarkan mereka kalau uang itu didapatkan dengan susah payah. Mereka lebih menghargai apa yang mereka punya karena segala sesuatunya ngak didapatkan begitu saja. Emaknya selalu mengingatkan kalau si papa sampe kadang ngak pulang rumah, kerja keras untuk kita semua. Ngak semua apa yang mereka tunjuk di toko mereka dapatkan. Harus nabung dan beli sendiri. Jahat ya emaknya? Well, kalo ngak begitu bakal dimanja abis-abisan sama keluarga karena 2 krucil ini yang paling kecil di keluarga. Sering dikasih mainan sama tante, oma, om, sepupu yang akhirnya cuma dilempar begitu saja karena selalu berpikir pasti dapat yang baru lagi. Sejak pake aturan ini, anak-anak jadi lebih menghargai apa yang mereka punya. Bahkan si Cici sering banget curhat di sekolah, katanya : “kasihan si papa harus kerja keras supaya bisa beliin Cici sepeda baru”. He he he
Well, namanya manusia ngak ada yang sempurna. Anak-anak kadang juga sering melawan aturan. Kuncinya ya papa-mama harus konsisten sama aturan. Si papa bilang A, si mama juga harus ikut bilang A. Kalo si papa bilang B dan si mama bilang A bisa kacau dunia (anak-anak jadi bingung mana yang benar)… ha ha ha
No comments:
Post a Comment